banner 970x250
banner 970x250
banner 970x250

Webinar “Sejarah Masjid Tua di Gayo” USK: Masjid di Gayo Berdiri Saat Periode Masuk dan Periode Perkembangan Islam

  • Bagikan

ACEH TENGAH, BARANEWS | Pembangunan tempat ibadah di Dataran Tinggi Tanoh Gayo tidak terlepas dari masuk dan berkembangnya Islam di negeri para aulia tersebut. “Periode masuk, dari Perlak melalui aliran sungai yang melalui Perlak, naik ke atas, lalu ke Serule, sampai ke Isak, yang dibawa Meurah Malik Ishaq. Nama Isak dari nama Meurah Malik Ishaq. Kira-kira, tahun 900-an masehi,” kata Yusradi Usman al-Gayoni, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, pemateri Webinar “Sejarah Masjid Tua di Gayo” yang diselenggarakan Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Universitah Syiah Kuala (USK) melalui Zoom Meeting, Rabu (6/7/2022).

Dalam Webinar yang bahasannya fokus ke Masjid Asal Gayo Lues serta Masjid Asir-Asir dan Masjid Kebayakan di Aceh Tengah, dan dimoderatori Ketua Jurusan Arsitektur dan Perencanaan USK, Dr. Laina Hilma Sari, M.Sc., Pendiri dan Pengelola Perpustakaan Gayo itu, mengungkapkan, Meurah Malik Ishak merupakan putra Sultan ke-7 Perlak, Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (334-361 H/946-973 M). “Pada waktu itu, ada dua aliran di Perlak, Syiah dan Suni. Pengaruh aliran tersebut turut membelah masyarakat Perlak ketika itu. Satu kelompok, Syiah. Kelompok yang lain, Suni. Dua aliran ini kembali bersatu saat penyerangan Sriwijaya ke Perlak. Situasi tersebut, serangan Sriwijaya, aliran Syiah, dan bagaimana menyebarkan Islam, yang membuat Meurah Malik Ishaq ke Gayo. Pada akhirnya, Meurah Malik Ishaq mendirikan Kerajaan Islam Isak di Gayo,” kata Yusradi.

Dari Isak, jelasnya, Islam kemudian berkembang ke Linge, ke Takengon, daerah Gayo lainnya, dan pesisir Aceh melalui keturunan Meurah Malik Ishaq. Anak Meurah Malik Ishaq yang di Isaq, Meurah Mege. Yang ke Takengon, Meurah Mersa. Cucu Meurah Mersa, Meurah Silu atau Malikussaleh, pendiri Kerajaan Samudera Pasai. Dari Pasai Islam menyebar ke Nusantara. Dari Linge, ada keturunannya, Meurah Johan, menguatkan syiar Islam ke Aceh Besar dan Banda Aceh sekarang. Kemudian, mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam, 601 H/1205 M, 817 tahun yang lalu.

“Masjid Asal di Penampaan berdiri tahun 1214 M, 808 tahun lalu. Disebut Asal, karena masjid pertama di Gayo Lues dan sekitarnya. Bangunan asli Masjid Asal masih ada sampai sekarang, berdinding tanah liat, berbahan kayu, atapnya pun masih yang lama. Bentuk aslinya masih dipertahankan, walaupun sudah ada masjid pendukung Masjid Asal di sebelahnya. Dinding masjid yang dari tanah, bisa jadi dicampur dengan putih telor atau tumbuhan lainnya saat itu. Perlu diteliti lebih lanjut. Ornamen di tiang, papan, khas Gayo. Ini menarik, karena motif-motif kerawang Gayo sekarang, sudah ada sejak jaman prasejarah di mana orang Gayo sudah mendiami Mendale (Sumatera sekarang) sejak 8400 tahun lalu,” sebutnya.

Dijelaskan peneliti Masjid Quba Bebesen tersebut, Masjid Asir-Asir menurut data yang terpublikasi sekarang, didirikan tahun 1927. “Sebelum masjid yang ada di seberang Wih (Sungai) Pesangan sekarang, sebetulnya ada seperti mersah atau joyah. Itu yang pertama, baru masjid yang sekarang. Keterhubungan narasi sejarah ini penting. Sebab, pendirian Masjid Asir-Asir ada kaitannya dengan ulama asal Yaman, Habib Abdillah bin Isa Alhabsyi, yang datang ke Gayo, tahun 1800-an dan ikut dalam pembangunan Masjid Asir-Asir. Saya memperkirakan, bakal pembangunan Masjid Asir-Asir tadi tahun 1890-an, sebelum yang 1927,” sebut Yusradi.

Habib Abdillah, sambungnya, merupakan menantu Habib Muhammad atau dikenal dengan Habib Muhammad Jalung (meninggal tahun 1887), yang menikah dengan Syarifah Madinah. Habib Muhammad Jalung menguatkan syiar Islam di Jalung, Belang Rakal Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah, dengan mendirikan Balai Pengajian. “Habib Muhammad Jalung, salah satu anak dari Habib Syarif, ulama asal dari Mekkah. Habib Syarif meninggal tahun 1850. Dari Mekkah Habib Syarif bersama istrinya, kedua anaknya: Habib Muhammad dan Habib Yusuf, berikut satu penghafal Quran, Syekh Mahmud, ke Pidie, lalu ke Ulim, ke Pedada, mengikuti aliran sungai tersebut, sampai di Ketol dan menetap di sana. Di Ketol, Kute Gelime, Habib Syarif mendirikan masjid, akhir tahun 1700-an, sebelum pindah ke Bebesen dan ikut merintis pembangunan Masjid Bebesen yang model pertama, awal tahun 1800-an. Yang dibakar oknum PKI, tanggal 21 Juli 1965, model kedua. Sejak tahun 1965 sampai sekarang, model ketiga. Di situ lah relasi Masjid Asir-Asir, Jalung, Bebesen, dan Ketol. Ada peran ulama dari Mekkah dan Yaman tadi,” tegasnya.


Dari catatan yang ada, lanjut Yusradi, Masjid Kebayakan didirikan tahun 1920. “Di sisi lain, ada dokumentasi foto Belanda, dengan gambar masjid di Kebayakan dan tersebut tahun 1900. Perkiraan saya, Masjid Kebayakan dibangun sebelum tahun 1900, sebelum kedatangan Belanda ke Gayo. Demikian dengan Masjid Ketol, terpublikasi dibangun tahun 1890. Padahal, Masjid Ketol lebih dahulu dibangun dari Masjid Bebesen, awal tahun 1800-an. Dari Bebesen dan banyak tempat di Aceh Tengah pada masa itu, salat Jumat dan mendalami agama ke Ketol, karena ada ulama asal Mekkah tadi, melalui aliran Wih Pesangan. Karenanya, saya memperkirakan Masjid Ketol dibangun akhir tahun 1700,” tuturnya.

Periode selepas Meurah Malik Ishaq ini, menurut Yusradi, disebut periode perkembangan dan penguatan Islam di Gayo. “Seperti di Ketol, Bebesen, Jalung, Asir-Asir, dan Kebayakan. Sementara itu, periode masuknya, di Isak. Tentu, menarik juga meliti sejarah dan kearifan arsitektur di Isak, Linge, dan sekitarnya,” katanya. (RED)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *